Ada banyak KPK di jalanan? Wah siap – siap untuk yang sering “bermain – main” untuk kena getahnya karena bisa jadi bahan bullying banyak orang. Tapi nyatanya mereka yang menjadi pelaku utama malah dengan bangga dan sombongnya terlihat lebih arogan lalu semena – mena terhadap “petugas” atau orang lain.

Tunggu, KPK di jalanan? Lagi mengintai orang untuk ditangkap? Aaaah, bukan. Ini bukan seperti yang orang – orang pada umumnya atau kalian bayangkan. Ya, ini Koalisi Pejalan Kaki (KPK), bukannya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yah.

Tapi mau dibilang KPK yang itu juga bisa, soalnya mereka memberantas para pengendara yang melakukan korupsi yaitu mengambil jatah pejalan kaki seperti trotoar atau pedagang yang mengambil paksa lahan trotoar, JPO (Jembatan Penyeberangan Orang), atau bahkan sampai memakan badan jalan yang seharusnya bukan untuk area berjualan.

Para pejalan kaki semakin terusik keadaannya karena pengguna kendaraan yang semakin agresif dan ganas di jalan. Jangankan untuk menyeberang jalan yang susah, untuk jalan biasa saja sudah cukup susah karena banyak trotoar atau tepian jalan yang menghilang sehingga pejalan kaki harus berjalan beriringan dengan pengguna kendaraan yang kadang kala sesuka hatinya karena merasa jalanan umum di aspal ya untuk pengguna kendaraan.

Berjualan di JPO (Pic by Republika)

Di satu sisi kalau ada trotoar atau tepian jalan kosong, maka besar kemungkinan bakal diambil alih oleh mereka walaupun gak semua ngambil lahan di pinggir jalan atau trotoar, karena ada juga yang jualan di taman – taman. Bahkan mereka juga mengambil jatah lapak di JPO, karena menurut mereka banyak yang membeli dagangannya.

Papan Reklame di JPO (Pic by bisnisnusatenggara.com)

JPO, jembatan ini sebenarnya sudah ada banyak tersebar tapi semakin kesini semakin kurang terurus karena orang – orang sudah mulai jarang ada yang berjalan kaki. Bahkan tidak sedikit yang tidak sadar bahwa selama ini ada JPO di tempat kita lalu lalang, ya itu karena JPO berubah fungsi jadi tempat menggantung spanduk, baliho, papan reklame, dan sebagainya,

Pengendara motor penguasa Zebra Cross (Pic by Boombastis)

Yang paling umum kita temui lampu lalu lintas dan zebra cross, keduanya sudah seperti 1 paket dihadirkan. Banyak pengendara yang tidak pernah memperhatikan akan fungsi zebra cross, entah mereka tidak peduli, tidak terlihat atau benar – benar tidak paham dengan santainya berhenti tepat di zebra cross membuat pejalan kaki kehilangan “jatah” tempat menyeberang yang memang disediakan untuk mereka.

Hal ini juga yang membuat pejalan kaki disalahkan karena menyeberang tidak di tempat semestinya, sehingga ketika terjadi kecelakaan pasti disalahkan. Padahal kalau ada fasilitasnya disediakan untuk para pejalan kaki, besar kemungkinan ada pihak lain yang memanfaatkan untuk kepentingan pribadinya.

Pelican Cross Rusak (Pic by CNN Indonesia)

Setelah lelah dengan JPO yang semakin di tinggalkan (tapi di beberapa kota lain semakin diperluas), ada pelican cross. Sebenarnya ini bukan hal baru lagi, karena di beberapa daerah sudah cukup lama mengadaptasi ini untuk membantu penyeberangan jalan. Untuk menyeberang cukup tekan tombol yang ada disitu kemudian lampu akan menyala semacam isyarat s.o.s lengkap dengan bunyi untuk menandakan dan menghimbau pengendara untuk berhenti dan memberi kesempatan pejalan kaki menyeberang. Tapi sering kali tombol ini jadi bahan keisengan orang kreatif sehingga sampai akhirnya rusak.

Dari video di atas cukup menarik, masih banyak ornag yang sadar kalau mereka sebenarnya salah dan memilih turun dari trotoar dan kembali ke jalan utama atau berbalik arah tanpa perlawanan, bisa dibilang mereka itu orang yang punya kesadaran kurang bagus karena sejak awal sudah mengetahui trotoar bukan tempatnya tapi tetap lewat.

Ada juga yang tetap keras memaksa maju dengan cueknya dan ada juga yang memaksa maju tapi gagal karena dihalangi oleh salah satu orang dengan cara berbaring di trotoar sehingga mereka berputar atau turun langsung.

Sebegitunya kah hak pejalan kaki dimata  “pengendara sok” di negeri ini? memang masih banyak pengendara yang sadar dan taat aturan, tapi tidak sedikit pula pengendara yang arogan dan merasa punya hak melintas hanya karena dia bayar pajak.

Memang para pejalan kaki semakin kesini semakin sulit rasanya terutama di daerah yang (mengaku) kota besar, dengan kebesaran bangunan, kebesaran kendaraan, dan kebesaran ego juga. Fasilitas untuk para pejalan kaki juga di banyak daerah kurang diperhatikan, dari yang keamanan dan kenyamanannya kurang, kebersihannya tidak dijaga, kondisinya yang memprihatinkan, bahkan sudah rusak tapi dibiarkan begitu saja.

Ya memang jadi dilema juga, karena kebanyakan dana pajak digunakan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan mengorbankan fasilitas untuk pejalan kaki yang sudah rusak semakin menjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *