Momen – momen di Idul Fitri selalu menjadi kesenangan tersendiri untuk hampir semua orang. Gak cuma dari kalangan muslim yang menanti kehadirannya tapi dari mereka yang non muslim juga menantikan saat seperti ini Terlebih lagi di Indonesia. Karena pada saat seperti ini bisa mendapat tambahan uang dari THR (Tunjangan Hari Raya), tapi ini khusus untuk karyawan atau pekerja ya.

Waktu Idul Fitri juga dimanfaatkan para pedagang menaikkan harga – harga dagangannya lalu diturunkan kembali dengan dalih memberi diskon, tapi gak semua pedagang seperti ini, hanya saja ini teknik penjualan standar yang banyak diterapkan.

Banyak orang yang ingin bisa merayakan Idul Fitri bersama dengan keluarga karena pada saat seperti ini juga ada waktu libur yang namanya cuti bersama sehingga dengan harap bisa berkumpul bersama keluarga tercinta. Tapi apa daya untuk yang harus masuk kerja pada hari ini, harus menahan rasa karena waktu liburnya berubah bahkan berkurang.

Walaupun gak semua masuk kerja hari ini, tapi mereka ialah salah satu orang yang berdedikasi karena mau mengorbankan waktunya untuk memberikan pelayanan kepada yang lainnya. Seperti halnya petugas keamanan (Polisi / Tentara / Satpol PP / Security), karyawan rumah sakit (Paramedis, Tim IT RS (gak semua rs punya ini)), pramusaji, pengurus tempat ibadah (yang ini gak kenal libur malahan), petugas kebersihan, dan lainnya.

Ada yang seharusnya mendapatkan waktu liburnya pada saat seperti ini di masa cuti bersama / libur panjang tapi memilih untuk tetap masuk, ada juga yang dipaksa masuk untuk menggantikan karyawan lain karena ke  egoisan orang tersebut.

Bukan cuma 1 orang saja yang begitu, masing – masing orang pasti mempertahankan ego nya kalau sudah memasuki musim libur karena tidak ingin diganggu sewaktu menjalani liburan. Yang seharusnya masuk kerja pada masa libur panjang tapi karena ego nya yang tinggi dan tidak mau mengalah akhirnya orang lain yang harus mengalah untuk menggantikannya.

Biarpun dengan iming – iming uang lembur hari raya juga tidak banyak orang yang mau mengambilnya karena mereka lebih mementingkan bagaimana bisa berkumpul dengan keluarga dirumah. Sedangkan mereka tidak memikirkan bagaimana kewajiban dan tugasnya diluar sana yang menunggu karena ditinggalkan.

Diluar sana ada banyak perantauan baik itu yang sedang menuntut ilmu ataupun bekerja dan jauh dari keluarga. Jangankan untuk bisa berkumpul dengan keluarga, untuk libur saja belum tentu mereka bisa mendapatkannya.

Banyak orang sudah mengeluh lelah dan ingin pulang, padahal jarak mereka dengan keluarga / rumah hanya beda kabupaten / kota yang bisa ditempuh kurang dari 1 hari (12 jam) atau 300 KM perjalanan darat bahkan ada yang hanya perlu sekitar 2 – 3 jam saja sudah mengeluh kangen rumah dan dalam sebulan sekali bisa pulang.

Sehingga kami sebagai orang perantauan memilih untuk tetap masuk kerja daripada bingung apa yang harus dilakukan karena tidak ada juga yang mau didatangi pada masa – masa liburan seperti ini. Kalaupun awalnya ingin libur seperti yang lainnya, tetapi ketika ada kejadian seperti karyawan egois pasti pekerjaan dilampiaskan ke orang jauh dengan kata – kata andalan “kamu gak pulang kampung juga, jadi mending masuk kerja”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *